ECONOMIC CHALENGE AMID GEOPOLITICAL RISK
Tanggal 6 Desember 2023
- IMF memproyeksikan ekonomi global tumbuh 3,0% pada tahun 2023 dan 2,9% pada tahun 2024. Perekonomian negara-negara maju tetap mengalami penurunan, dan perekonomian negara-negara berkembang tetap menjadi lokomotif pertumbuhan.
- Terhentinya Black Sea Grain Initiative (Prakarsa Transportasi Gandum & Biji-bijian Laut Hitam) akan menaikan harga pangan. Hal tersebut akan meningkatkan kekhawatiran banyak negara berkembang. Prakarsa tersebut adalah persetujuan antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi oleh PBB untuk mengurangi dampak krisis pangan global akibat perang antara kedua negara.
- Pasar obligasi global akan terkena dampak negatif crowding up effect, berupa kenaikan tingkat bunga/yield, apabila penerbitan surat berharga treasury tidak dapat memenuhi permintaannya.
- Krisis geopolitik di Timur Tengah menjadi tantangan terbesar bagi perekonomian global di penghujung tahun 2023.
- Gaya Perang Yom Kippur (perang antara Israel dengan negara-negara Arab pada 1973) kemungkinan akan terulang apabila Israel akhirnya menyerang aliansi Hamas (Lebanon dan Suriah).
- Perekonomian Indonesia akan tetap kokoh di tengah ketidakpastian global. Ekonomi tetap tumbuh di atas 5% pada Semester I 2023. Pertumbuhan ekonomi domestik akan mengalami penurunan apabila belanja investasi turun lebih cepat dibanding perlambatan ekonomi global.
- Likuiditas Dollar dan likuiditas mata uang lokal mencukupi dalam sistem keuangan Indonesia yang disebabkan naiknya surplus neraca transaksi berjalan dan melambatnya penyaluran pinjaman.
- Defisit pemerintah yang lebih rendah akan mengurangi ketersediaan SBN dan menekan kenaikan yield.
- Tahun 2024 IHSG diproyeksikan mencapai level 8.000 dan yield SBN 10 tahun sebesar 5,8%.
Akhmad Mikail, M.Ec Senior Economist PT. Sucor Sekuritas dan Dosen FEB Universitas Indonesia Pada hari Rabu 06 Desember 2023, telah diadakan acara Economic & Market Outlook : Economic Chalenge Amid Geopolitical Risk yang disampaikan oleh Bpk Ahmad mikail Zaini selaku Senior Economist PT Sucor Securitas Indonesia dan Dosen FEB Universitas Indonesia. Dalam acara tersebut dihadiri pula CEO PT Sucor Sekuritas Indonesia Bpk Bernadius Wijaya. |
